Home Artikel / Makalah

Atikel / Makalah

Studi: Anak Autis Miliki Otak Lebih Besar

Email Cetak PDF
Anda Nurlaila

Satu dari 100 anak mengalami autisme ringan hingga berat.

VIVAnews - Para ilmuwan menemukan, anak laki-laki yang mengalami autisme memiliki volume otak lebih besar dibandingkan rekan mereka yang normal. Namun, hal ini tak terjadi pada anak perempuan yang mengalami autisme.

Dalam sebuah studi terbesar dari jenisnya, peneliti menemukan bahwa anak dengan autisme regresif memiliki volume otak enam persen lebih besar daripada mereka yang tidak autis. Penemuan ini menambah bukti bahwa kondisi otak yang tak dapat disembuhkan ini dipengaruhi perkembangan neurologis. 

Autisme, yang mempengaruhi satu dari setiap 100 orang, akan menghambat kemampuan berkomunikasi, mengenali emosi dan bersosialisasi. Autisme terjadi dalam bentuk yang ringan maupun berat.

Selama studi, tim peneliti Universitas California memindai 180 otak anak berusia dua hingga empat tahun. Dari pindai MRI diketahui 61 anak mengalami autisme regresif saat anak berusia 18-24 bulan. Sisanya, 53 orang terdeteksi mengalami autisme awal dan 66 orang tidak memiliki autisme sama sekali.
 
Pemimpin peneliti Christine Wu Nordahl mengatakan, "Temuan memperlihatkan anak laki-laki dengan autisme regresif menunjukkan bentuk neuropatologi yang berbeda dari anak yang mengalami autisme dini," katanya kepada Daily Mail.

Di sisi lain, anak perempuan dengan autis dalam penelitian ini, tidak memiliki perbedaan dibandingkan anak normal. Para ahli menduga, hal ini bisa membuktikan adanya pengaruh gender dalam autisme. 

Temuan yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences Early Editionmendorong para ilmuwan untuk menyelidiki bagaimana patologi otak bervariasi dalam kelompok autisme yang berbeda.

• VIVAnews 
Pemutakhiran Terakhir ( Kamis, 12 Januari 2012 12:02 )
 

Orangtua Jenius, Anak Berisiko Autis

Email Cetak PDF
Mutia Nugraheni

Einstein dan Newton mengalami sindroma Asperger, salah satu gejala autisme.

VIVAnews - Sampai saat ini, pemicu autisme belum diketahui secara jelas. Namun, seorang psikolog dari University of Cambridge, Inggris, mengungkap kalau salah satu penyebab autisme adalah karena hasil keturunan orangtua yang sangat andal dalam bidang eksakta.

Sebelumnya, beberapa ilmuwan menyimpulkan, bahwa sebagian besar tokoh teknologi dunia memiliki gangguan spektrum autisme (ASD). Hal ini membuat mereka kesulitan memahami bahasa, bersosialisasi dan sering bermasalah dalam hal perilaku, yang merupakan ciri khas dari gangguan autisme.  

Dari kesimpulan tersebut, lalu berkembang teori yang menyebutkan kalau orang yang berprofesi di bidang ilmu pengetahuan dan teknik, memang memiliki karakteristik autisme. Termasuk, berisiko tinggi memiliki anak yang juga mengalami gangguan autisme.

Hal ini lalu diteliti oleh Simon Baron-Cohen, psikolog dari University of Cambridge, Inggris. Menurut teori yang ia kembangkan selama 15 tahun terakhir, orangtua dari anak-anak autis dan anak itu sendiri, memiliki bakat untuk memahami dan menganalisis prediksi, berdasarkan aturan sistem seperti mesin, matematika atau program komputer.

"Gen yang membuat orangtua berpikir teknis inilah, yang menurut saya menyebabkan autisme, ketika diturunkan pada anak-anaknya. Terutama, bila dikombinasikan dengan dosis gen serupa," kata Cohen, seperti dikutip dari nature.com.

Selama ini, memang ada stereotipe bahwa ilmuwan dalam bidang teknik cenderung 'kutu buku' dan tak mudah bergaul. Baron-Cohen juga berspekulasi bahwa tokoh-tokoh seperti Albert Einstein dan Isaac Newton mengalami sindroma Asperger, salah satu gejala autisme.

Faktor Genetik

Dari sekian banyak teori yang berkembang soal pemicu autis, memang ada kesimpulan yang selalu sama. Bahwa, faktor genetik berperan besar dalam risiko gangguan autisme. "Jika orangtua menunjukkan gejala autisme, kemungkinan besar memiliki anak yang juga mengalami autisme," kata Cohen. 

Kesimpulan Cohen ini, juga diamini oleh Bryna Siegel, seorang psikolog klinis yang bekerja di klinik autis, University of California, San Francisco, Amerika Serikat. "Hal ini memang sesuai dengan yang saya alami dan pengalaman setidaknya beberapa dokter," katanya.

Namun, beberapa kritikan juga muncul menanggapi teori pemicu autisme yang dikembangkan Cohen. Menurut John Constantino, psikiater dari Washington University, data yang digunakan Cohen, tak cukup untuk mendukung teori-teorinya.

"Memang ada hipotesis yang bagus untuk terus dikembangkan, namun hal ini harus dibuktikan melalui serangkaian tes," kata Constantino.

• VIVAnews 
 

Bakteri di Usus Anak Autis Berbeda dengan Anak Lain

Email Cetak PDF
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Anak-anak dengan autisme kadang memiliki masalah pada pencernaannya. Kini peneliti menemukan bakteri yang terdapat dalam usus anak autis berbeda dengan bakteri pada anak lainnya.

Studi sebelumnya telah mengungkapkan individu dengan autis sering menunjukkan adanya peradangan dan kelainan lain di saluran atas dan bawah ususnya. Tapi saat itu peneliti belum mengetahui apa penyebabnya.

Namun hasil studi yang dilakukan oleh Brent Williams dan rekan dari Mailman School of Public Health di Columbia University menemukan bahwa anak-anak autisme memiliki bakteri di usus yang tidak ditemukan pada anak-anak lain yang tidak memiliki autis.

"Hubungan antara mikroorganisme yang berbeda dan adanya pengembangan penyakit pada pencernaan anak autis menjadi isu yang menarik," ujar Christine A Biron, dari Brintzenhoff Professor of Medical Science di Brown University, seperti dikutip dari MedIndia,Kamis (12/1/2012).

Hasil uji sampel menunjukkan 12 dari 23 anak dengan autis memiliki bakteri kelompok Sutterella yang relatif lebih banyak, namun organisme ini tidak terdeteksi dalam sampel anak non-autis. Meski begitu peneliti belum mengetahui mengapa organisme ini hanya ada di dalam pencernaan anak autis.

"Sutterella telah dikaitkan dengan penyakit pencernaan bagian bawah, bakteri ini sangat terkenal tapi apakah tergolong patogen atau tidak sampai saat ini belum jelas," ujar Jorge Benach, ketua departemen mikrobiologi dari Stony Brook University.

Pada anak-anak dengan autisme, masalah pencernaan bisa menjadi salah satu hal yang sangat serius dan dapat berkontribusi pada perilakunya, sehingga dokter dan terapis kadang sulit untuk membantu pasien.

Benach menuturkan biasanya penelitian menggunakan sampel tinja atau feses untuk mengetahui mikroorganisme yang terdapat dalam usus orang dengan autisme. Tapi mikroorganisme yang terdapat dalam tinja tidak selalu mewakili mikroba yang melapisi dinding usus.

Untuk itu dalam studi ini peneliti menggunakan sampel hasil biopsi jaringan dari orang dengan autisme. Meski hasil ini memiliki statistik yang kuat, tapi tetap diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan apa peran dari bakteri Sutterella ini.

(ver/ir
 
  • «
  •  Mulai 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Halaman 1 dari 64




Peduli Autisme

YM Status

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini640
mod_vvisit_counterKemarin700
mod_vvisit_counterMinggu ini640
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5074
mod_vvisit_counterBulan ini3480
mod_vvisit_counterBulan lalu23977
mod_vvisit_counterSemuanya466783

Yang Online: 69
IP Anda: 38.107.179.230
,
Tgl: 05-02-2012 19:46



Pelangi Anakku

Yayasan Cinta Harapan Indonesia


Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler