Home Artikel / Makalah Artikel Pentingnya Intervensi Dini untuk Anak Autis

Pentingnya Intervensi Dini untuk Anak Autis

Email Cetak PDF

Anak-anak adalah masa yang membahagiakan. Oleh karenanya, setiap anak berhak menikmati masa indah tersebut dengan perasaan nyaman dan memuaskan dengan senantiasa memperoleh kasih sayang dan perhatian dari orangtua, teman sebaya, maupun lingkungan sekitar. Begitu pun hendaknya pada anak-anak autis.

Seperti diketahui, umumnya anak penyandang autis memiliki keterbatasan kemampuan dalam hal komunikasi, pola perilaku, dan interaksi sosial. Karena itu perlu penanganan khusus pada tahap perkembangan agar mereka dapat menjalani kehidupan layaknya anak-anak yang lain.

Penyebab autis hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun begitu, beberapa penelitian di Jepang, Australia, dan sejumlah negara maju lainnya, menyatakan bahwa faktor genetik memiliki keterkaitan di sini. Menurut penjelasan Dr.Lucy Pou K.H., director professional services Indonesia Centre for Autism Resource and Expertise (IndoCare), anak autis membutuhkan perhatian dini, tak hanya dari orangtua dan keluarga, melainkan juga lingkungan sekitarnya. Penanganan pun hendaknya dilakukan dengan segera meliputi keterampilan dasar, pendampingan, menyediakan waktu khusus, dan masih banyak lagi.

''Ini memerlukan kerja sama semua pihak agar penanganan dapat lebih efektif. Orangtua, guru, dokter, terapis, atau psikolog harus saling berkomunikasi sehingga kebutuhan anak autis bisa terakomodasi,'' ungkapnya di sela konferensi Oportunities for Children with Autism: Early Intervention or Later Rehabilitation?' di Jakarta, Kamis (22/6).

Lucy mengatakan, persoalan utama yang dihadapi anak penyandang autis adalah kesulitan dalam berkomunikasi. ''Itu yang pertama. Makanya, terapi komunikasi perlu mendapat perhatian, baik oleh orangtua, guru, dan lainnya sebagai langkah lanjut,'' imbuhnya.

Lantas bagaimana mengetahui seorang anak menyandang autis? Ciri awal yang dapat diketahui adalah jika sampai usia 12 bulan, dia belum mengucap babbling (kata-kata bayi). Kemudian hingga usia 18 belum satu kata keluar darinya. Begitu pula di usia 24 bulan belum bisa membentuk kalimat yang paling sederhana sampai menginjak usia lebih besar, dia mengalami gangguan berbahasa, baik verbal dan non verbal.

Terdapat dua tipe autis. Pertama, low functioning (IQ rendah). Pada anak autis low functioning, dia tidak akan dapat mengenal huruf maupun membaca. Maka dari itu, penanganan yang diberikan hendaknya tidak diarahkan ke sana, tetapi lebih ke pengajaran kemandirian yang sifatnya basic lifes skill.

Kedua adalah high functioning (IQ tinggi) atau yang biasa disebut asperger disorder. Anak autis tipe ini memiliki komunikasi yang baik, akan tetapi kurang dapat berinteraksi.

Penanganan anak autis dapat dilakukan dengan beberapa upaya. Bisa dengan menggunakan metode ABA (aplied, behaviour, realistis) yang merupakan terapi perilaku. Dapat pula dengan metode sensory integracy therapy, snouzleen theraphy, auditory therapy, speech and language therapy, occupational therapy ,dan psycho-educational therapy. Meski demikian menurut Lucy, terapi sendiri tidak akan berhasil apabila tidak diikuti dengan penanganan bersama oleh keluarga dan sekolah. "Ciptakan suasana yang kondusif bagi anak autis di lingkungan keluarga dan sekolah sebab di sanalah sebenarnya anak-anak itu bertumbuh kembang serta berinteraksi," paparnya.

Identifikasi kelemahan
Sementara itu, Prof Ho Lai Yun, MBBS,M.Med (Paediatric), Associate Dean Singapore General Hospital and Outram Campus, mengatakan intervensi dini terhadap anak penyandang autis sangat dibutuhkan dalam upaya penyiapan program pendampingan khusus. Adapun desain dari program tersebut harus tetap diarahkan pada pengembangan kemandirian, sosial, basic skill, communication skill, dan lainnya.

"Untuk itu, penting diketahui apa-apa saja kemampuan yang dimiliki oleh anak dan apa yang menjadi kelemahannya. Sebab dengan begitu, kita bisa mengidentifikasi langkah-langkah penangangan yang dapat dilakukan," ujarnya kemudian.

Dia lantas menyarankan, agar pelaksanaan program intervensi itu benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan anak. Seperti misalnya, anak autis dengan keluhan kesulitan membaca, maka ada baiknya jika penanganan tidak cuma dengan penerapan kegiatan belajar baca, tetapi dapat melalui berbagai cara. ''Pendekatannya adalah dari hal-hal yang menjadi kemampuan anak. Dari situ selain potensinya dapat berkembang sekaligus meningkatkan keterampilan yang lain," kata wakil ketua Singapore Children Society ini.

Di tempat sama, Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Mulyono Abdurrahman, mengatakan sejarah dan sistem pendidikan di Indonesia yang memisahkan antara anak normal dan anak autis serta yang dikenal dengan anak luar biasa, justru dapat menyebabkan persoalan baru. ''Anak-anak normal tidak mau menghargai anak-anak yang berkebutuhan khusus, dan anak berkebutuhan khusus tidak bisa melakukan penyesuaian sosial dalam pergaulan di masyarakat," tegasnya.

Oleh sebab itu, dia mengharapkan salah satu upaya penanganan bagi anak autis dan berkebutuhan khusus lainnya adalah dengan tidak memisahkannya dari pergaulan normal, berikan kesempatan yang sama kepada mereka."Tidak semua anak-anak itu bodoh, justru sebaliknya ada yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, tinggal bagaimana kita memenuhi apa-apa yang mereka butuhkan untuk pengembabangan diri."
 (idionline/RoL)
http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi.php?news_id=872
Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 09 Mei 2009 20:34 )  




Peduli Autisme

YM Status

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini674
mod_vvisit_counterKemarin747
mod_vvisit_counterMinggu ini2062
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5655
mod_vvisit_counterBulan ini16185
mod_vvisit_counterBulan lalu23357
mod_vvisit_counterSemuanya1218846

Yang Online: 48
IP Anda: 54.166.123.2
,
Tgl: 21-10-2014 18:56

Pelangi Anakku

Yayasan Cinta Harapan Indonesia


Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler