Home Artikel / Makalah Artikel Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa Remaja

Anak Autis Lebih Pelik dan Berat Hadapi Masa Remaja

Email Cetak PDF

Jakarta, Masa remaja merupakan masa transisi antara anak-anak menjadi orang tua. Pada masa ini, remaja seringkali menghadapi konflik, baik konflik dalam diri sendiri maupun konflik dengan lingkungan seperti orangtua, sekolah dan teman-temannya. 

Pada anak autis, konflik yang dihadapi saat remaja bisa lebih pelik lagi karena memiliki hambatan dalam mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya.

Banyak dijumpai kasus anak autis yang sudah mendapat terapi saat anak-anak dan bisa bersikap tenang kemudian berubah menjadi suka memberontak ketika memasuki masa remaja. 

Beberapa faktor penyebabnya adalah karena mulai menyukai lawan jenis, memasuki masa puber dan muncul dorongan seksual tapi tidak tahu cara menyampaikan atau mengatasinya.

Tak hanya itu, anak-anak autis di sekolah juga seringkali dijauhi oleh teman-temannya padahal mereka juga ingin diajak main bersama. 

Bahkan, banyak anak autis yang menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya. Kondisi ini membuat remaja autis rentan mengalami depresi.
Putro Agus Harnowo - detikHealth 
"Masa remaja selalu punya masalah. Namun jika orangtua dan anak sudah terbangun komunikasi yang baik sejak awal, biasanya gangguan anak autis yang dialami saat remaja tidak terlalu mengkhawatirkan," kata dr Adriana S. Giananjar, M.S., psikolog sekaligus pendiri sekolah khsuus anak autis 'Mandiga' dan dosen psikologi di Universitas Indonesia dalam acara Cares for Autism yang diselenggarakan London School of Public Relation di Taman Menteng, Jakarta, Sabtu (14/4/2012).

Ketika remaja, banyak hal yang berubah dalam diri anak autis. Perkembangan kognitifnya sebenarnya juga berkembang dan sudah memiliki kemampuan berpikir logis yang baik. 

Namun satu hal yang tidak berubah adalah egosentrisnya, anak autis masih melihat segala sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri. Ketika anak autis memiliki kegelisahan dan tidak dapat mengungkapkannya, maka ia cenderung menjadi marah, sedih dan frustasi.

Menurut Dr Adriana yang juga memiliki anak penyandang autis ini, gejala-gejala ini wajar dan banyak dijumpai. Namun hal ini bisa menjadi masalah jika intensitasnya berlebihan. 

Untuk mengatasinya, orangtua harus memiliki komunikasi yang baik dengan anak. Orangtua sebaiknya jeli melihat perubahan fisik dan mental anaknya dan lebih proaktif memahami kebutuhan anaknya.

"Pada fase ini, anak autis sering berubah-ubah moodnya. Pada dasarnya mereka sedang berada dalam masa pencarian jati diri dan terkadang memiliki tokoh idola. Kalau hubungannya dengan orangtua baik, tak jarang anak-anak autis ini kemudian mengidolakan bapak atau ibunya, dan ini sangat bagus," kata dr Adriana.

Hal lain yang perlu diperhatikan saat remaja autis menjelang remaja adalah kepekaannya bertambah dan biasanya mulai suka melamun. 

Akibatnya, bisa saja ia tiba-tiba menjadi senang dan beberapa saat kemudian berubah menjadi sedih. Sebenarnya masalahnya bukan dari luar, namun dari dalam anak itu sendiri.

Apabila menemui hal ini, orangtua sebaiknya membiarkan anak sendiri dan jangan diganggu dengan pertanyaan yang macam-macam sebab anak autis sangat sensitif terhadap suara dan gangguan dari luar.


(pah/ir
 




Peduli Autisme

YM Status

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini691
mod_vvisit_counterKemarin717
mod_vvisit_counterMinggu ini3663
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5655
mod_vvisit_counterBulan ini17786
mod_vvisit_counterBulan lalu23357
mod_vvisit_counterSemuanya1220447

Yang Online: 51
IP Anda: 54.167.75.155
,
Tgl: 23-10-2014 21:24

Pelangi Anakku

Yayasan Cinta Harapan Indonesia


Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler